Panduan Pembeli

Cara Cek Desil di DTSEN dan Memperbaiki Data yang Tidak Sesuai

Ingin tahu status desil Anda? Simak cara cek desil di DTSEN dan langkah perbaikan jika data tidak sesuai.

A
Anita Rahma

Consumer Guide Advisor

4 menit baca
Cara Cek Desil di DTSEN dan Memperbaiki Data yang Tidak Sesuai
Dokumentasi Redaksi / OtoPedia

Fenomena Viral Desil 10: Warga Bergaji UMR Tercatat Sejahtera

Istilah desil 10 mendadak ramai diperbincangkan di media sosial, terutama Threads dan Twitter. Banyak warganet yang mengaku heran setelah mengecek status kesejahteraan keluarganya melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Mereka yang merasa ekonominya pas-pasan justru tercatat dalam kelompok desil tertinggi, yang seharusnya menunjukkan tingkat kesejahteraan paling atas.

Keluhan yang muncul beragam. Ada yang mengaku masih mengontrak rumah dengan gaji UMR, tetapi masuk desil 9 atau 10. Ada pula yang tidak memiliki mobil atau motor, namun tercatat sebagai kelompok paling sejahtera. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: bagaimana sebenarnya sistem pemeringkatan desil ini bekerja?

Apa Itu Desil dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam statistik, desil adalah pembagian data menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Dalam konteks kesejahteraan, desil digunakan untuk mengelompokkan penduduk berdasarkan tingkat pengeluaran atau pendapatan. Desil 1 adalah kelompok termiskin, sementara desil 10 adalah kelompok terkaya.

Data yang digunakan berasal dari DTSEN yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS). DTSEN merupakan hasil integrasi data dari berbagai sumber, seperti data Pemerintah Daerah, data Kementerian Sosial, dan data dari lembaga lain. Proses pemeringkatan ini menggunakan variabel seperti pendapatan, pengeluaran, kepemilikan aset, dan kondisi perumahan.

Kronologi Viral: Curhatan Warganet yang Tercatat Desil 10

Perbincangan ini bermula dari sejumlah unggahan di Threads. Salah satu akun @y****** menulis,

"Iseng-iseng cek desil di dtsen-form.bps.go.id dan hasilnya? Masuk di desil 9. Ini kapan surveinya?? 7 tahun gue berumah tangga, gak pernah sekalipun disurvei BPS. Jadi dapet datanya dari mana ini?"

Akun @d*********** juga mengaku heran:

"KAKKK, AKU IBU RUMAH TANGGA TANPA PENGHASILAN.. Belum punya rumaah, kendaraan motor cuma 1 tapiii ikut Desil 10."

Tak hanya itu, akun @s********* menambahkan:

"Nentuinnya gimana ini? IRT yang 16 hari sebelum gajian uang sisa 200 rebu, masuk desil 10. Super kaya raya....."

Fenomena serupa juga dialami warga di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Titik (30) dan Ama (27) tercatat dalam desil 10, sementara Lusi (31) mendapatkan desil 9. Padahal, kondisi ekonomi mereka jauh dari kata sejahtera.

Penjelasan BPS: Mengapa Data Bisa Tidak Sesuai?

Menanggapi viralnya keluhan ini, BPS memberikan klarifikasi. Menurut Kepala BPS, data desil dihitung berdasarkan pengeluaran per kapita yang disetarakan, bukan pendapatan. Artinya, seseorang dengan pendapatan rendah tetapi memiliki tanggungan keluarga sedikit bisa masuk desil tinggi karena pengeluaran per kapitanya relatif besar.

Selain itu, data yang digunakan mungkin berasal dari periode survei yang sudah lama. BPS melakukan survei secara berkala, namun pembaruan data tidak selalu menjangkau seluruh wilayah secara merata. Hal ini bisa menyebabkan ketidaksesuaian antara kondisi aktual dan data yang tercatat.

Cara Cek Desil di DTSEN

Bagi Anda yang penasaran dengan status desil keluarga, berikut langkah-langkah mengeceknya melalui situs resmi DTSEN:

  1. Kunjungi laman dtsen-form.bps.go.id.
  2. Masukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nama lengkap sesuai KTP.
  3. Ikuti petunjuk verifikasi yang diberikan.
  4. Setelah berhasil, Anda akan melihat informasi desil keluarga Anda.

Jika Anda merasa data tidak sesuai, Anda dapat mengajukan usulan perbaikan melalui mekanisme yang disediakan, baik secara online maupun melalui Dinas Sosial setempat.

Dampak dan Implikasi Kebijakan

Pemeringkatan desil ini penting karena menjadi dasar penyaluran berbagai bantuan sosial dan subsidi. Misalnya, pemerintah berencana membatasi subsidi BBM hanya untuk kelompok desil 1 hingga 8, sementara desil 9 dan 10 dianggap mampu. Jika data tidak akurat, maka penyaluran bantuan bisa salah sasaran.

Oleh karena itu, akurasi data menjadi krusial. BPS terus berupaya memperbarui dan memutakhirkan data DTSEN dengan melibatkan pemerintah daerah dan berbagai sumber data. Masyarakat juga diharapkan proaktif melaporkan jika data yang tercatat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Kesimpulan

Fenomena viral desil 10 menyoroti pentingnya validasi data kesejahteraan. Meskipun sistem pemeringkatan ini dirancang untuk mengelompokkan penduduk secara objektif, masih ada celah yang menyebabkan ketidaksesuaian. Bagi masyarakat, penting untuk memahami cara kerja desil dan proaktif dalam memastikan data diri akurat. Dengan begitu, bantuan sosial dan subsidi dapat tepat sasaran.


Disadur & diolah dari rujukan berita: TribunNews.com (Lihat sumber asli)

Bagikan Artikel:
A

Anita Rahma

Penulis dan kontributor ahli di OtoPedia.

Lihat Semua Artikel Penulis →